HUBUNGAN OVER PROTEKTIF PARENTING DENGAN SELF ADAPTATION DALAM PERPSEKTIF ISLAM
  • NURQUR'AN ANANDA FAUZAN
  • 22 November 2023
  • 400 x

Bagi orangtua, anak adalah anugerah dan sekaligus ujian sebagai anugrah yang harus disyukuri Ketika anak hadir di tengah-tengah keluarga orang tua pasti menginginkan anaknya dapat berkembang secara normal, sehingga orang tua mempunyai cara tersendiri dalam memperlakukan anak. Ada orang tua yang bersikap memberikan kebebasan kepada anak dengan alasan supaya anak bisa mengembangkan potensi pada dirinya. Ada pula orang tua yang memberi kebebasan kepada anak tapi tetap memberikan kontrol, dan ada pula orang tua yang bersikap melindungi anak secara berlebihan dengan memberikan perlindungan terhadap gangguan dan bahaya fisik maupun psikologis, sampai anak tidak mencapai kebebasan atau selalu tergantung pada orang tua, perilaku orang tua tersebut disebut dengan over protective parenting, dengan alasan agar anak tidak mengalami celaka, dan karena anak belum bisa berfikir secara logis maka perlu ada perlindungan yang ekstra. Kebiasaan orang tua tersebut akan memberikan hambatan dalam menjalankan tugas-tugas perkembangannya.

Perilaku orang tua yang over protective di mana orang tua terlalu banyak melindungi dan menghindarkan anak mereka dari macam-macam kesulitan sehari-hari dan selalu menolongnya, pada umumnya anak menjadi tidak mampu mandiri, tidak percaya dengan kemampuannya, merasa ruang lingkupnya terbatas dan tidak dapat bertanggung jawab terhadap keputusannya sehingga mengalami kesulitan dalam menyesuaikan diri. Sekarang ini banyak sekali ditemui orang tua yang memberikan apa saja yang diinginkan anak mereka, tapi tidak memberikan tanggungjawab kepada anak mereka, maka seorang remaja yang mendapatkan pemeliharaan yang berlebihan dan serba mudah akan mendapat kesukaran dalam self adaptation dengan keadaan diluar rumah.

Bahwa kebiasaan orang tua yang selalu memanjakan anak, maka anak tidak bisa mempertanggung jawabkan apa yang dilakukan, pada umumnya anak menjadi tidak mampu mandiri, tidak percaya dengan kemampuannya, dan merasa ruang lingkupnya terbatas. Seorang remaja yang orang tuanya over protective jarang mengalami konflik, karena sering mendapat perlindungan dari orang tuanya, dengan situasi tersebut maka remaja kurang mendapat kesempatan untuk mempelajari macam-macam tata cara atau sopan santun pergaulan di lingkungannya, maka wajar saja jika remaja mengalami masalah dalam menyesuaikan diri. Perilaku over protective orang tua merupakan kecenderungan dari pihak orang tua untuk melindungi anak secara berlebihan, dengan memberikan perlindungan terhadap gangguan dan bahaya fisik maupun psikologis, sampai sebegitu jauh sehingga anak tidak mencapai kebebasan atau selalu tergantung pada orang tua.

Dari penjelasan diatas merupakan bentuk dari adanya sikap dan perilaku over protective orang tua kepada anak sebagai wujud kasih sayang yang berlebihan, sehingga membuat anak kurang fokus dan aktif dalam melakukan belajar-mengajar, bahkan hal ini mampu memicu terjadinya bullying di sekolah sehingga anak akan merasa tidak diterima dalam lingkungannya. Salah satu potensi yang harus dimiliki oleh seorang individu supaya dapat diterima di lingkungan dan dapat berkembang sebagaimana mestinya adalah ia harus mampu menyesuaikan diri di lingkungannya.

Self adaptation adalah kemampuan individu untuk membuat hubungan yang memuaskan antara orang dan lingkungan. Mencakup semua pengaruh kemungkinan dan kekuatan yang melingkungi individu, yang dapat mempengaruhi kegiatannya untuk mencapai ketenangan jiwa dan raga dalam kehidupan. Lingkungan di sini salah satunya adalah lingkungan sosial di mana individu hidup, termasuk anggota-anggotanya, adat kebiasaannya dan peraturan-peraturan yang mengatur hubungan masing-masing individu dengan individu lain. Self adaptation dipengaruhi oleh banyak faktor, secara garis besar faktor-faktor penyesuaian diri tersebut dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu, faktor internal dan eksternal.

1. Faktor internal meliputi: faktor motif, faktor konsep diri remaja, faktor persepsi remaja, faktor sikap remaja, faktor intelegensi, minat dan kepribadian.

2. Faktor eksternal meliputi: faktor keluarga terutama pola asuh orang tua, faktor kondisi sekolah, faktor kelompok sebaya, faktor prasangka sosial, faktor hukum dan norma sosial.

Hubungan Over Protective Parenting dengan Self Adaptation pada Siswa Madrasah Al-Irfan Nusantara Tangerang tahun ajaran 2022/2023. Semakin tinggi over protective parenting, maka akan semakin rendah self adaptation anak. Hal ini diketahui bahwa pola asuh over protective parenting kurang baik dalam ajaran Islam, karena dalam Islam pola asuh yang baik sebagaimana diajarkan oleh Luqman dan Rasulullah SAW. Pada kisah Luqman Al-Hakim ini mengajarkan bagaimana cara orang tua dalam membimbing anak. Bentuk pola asuh yang diajarkan Luqman kepada anaknya merupakan pola asuh demokratis. Pola asuh demokratis ini menggunakan penjelasan, diskusi, dan penalaran untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini menekankan aspek edukatif dari sisi disiplin daripada hukuman. Adapun aspek pola asuh sebagai berikut:

1.      Warmth (Kehangatan) Salah satu indikator pola asuh yang demokratis yaitu memberikan kehangatan kepada anaknya dengan memberikan nasihat-nasihat secara lemah lembut dan penuh perhatian Kehangatan yang dilakukan oleh Luqman yaitu terletak pada kata “ya bunayya”, yang bermakna “wahai anakku”. Penyebutan ini adalah istilah memanggil anak dengan perasaan penuh kasih sayang dan penuh kelembutan terhadap seorang anak. Memberikan nasihat dan pola asuh melalui hubungan yang saling hormat menghormati antara orang tua dan anak, menggunakan perkataan yang lembut dan tutur kata yang baik, dengan penuh perhatian, dan tidak lupa mengedepankan kemampuan anak.

2.      Control (Pengawasan) Salah satu indikator pola asuh yang demokratis yaitu memberikan pengarahan kepada anaknya tentang perbuatan baik yang perlu dipertahankan dan yang tidak baik agar ditinggalkan. Pengawasan adalah suatu usaha menstimulasi, mengkoordinasi dan membimbing secara kontinu pertumbuhan guru-guru di madrasah baik secara individual maupun secara kolektif, agar lebih mengerti dan lebih efektif dalam mewujudkan seluruh fungsi pengajaran. Dengan demikian mereka dapat menstimulasi dan membimbing pertumbuhan tiap murid secara kontinu serta mampu dan lebih cakap berpartisipasi dalam masyarakat demokrasi modern. Allah SWT telah menciptakan manusia dan telah menurunkan Al-Quran sebagai pedoman dan pembimbing manusia mencapai keberhasilan di dunia dan di akhirat. Dalam hal ini semua pekerjaan manusia tidak terlepas dari Pengawasannya dan semua perbuatannya akan diminta pertanggung jawabkan di akhirat nantinya.

3.  Communication (Komunikasi) Salah satu indikator pola asuh yang demokratis  yaitu memberikan contoh teladan secara langsung melalui komunikasi dua arah dengan anaknya agar dapat dipertimbangkan Bersama. Dalam Al-Qur'an dan Hadist banyak istilah yang cukup banyak terkait dengan komunikasi, diantaranya ialah lafadz, hiwar, khabar, tabsyir dll. Lalu komunikasi dalam islam merupakan untuk mewujudkan hubungan vertikal antara "hamba" dengan Allah SWT dan hubungan sesama manusia (hambluminannas). Hubungan vertikal tersebut dilakukan dengan amalan amalan ibadah seperti sholat, doa, dzikir, dan ibadah lainnya yang berupaya manusia untuk mendekati dirinya kepada Allah SWT.

Komunikasi adalah penyampaian pesan berupa dari isi pikiran, ide, informasi yang akan diberi tahu kepada orang lain. Penyampaian pesan tersebut disebut sebagai komunikator atau sender (pengirim), penerima pesan tersebut disebut sebagai komunikan atau receiver (penerima). Dari berbagai penjelasan apa sih Komunikasi islam itu? Komunikasi Islam adalah proses penyampaian pesan dengan menggunakan prinsip-prinsip komunikasi ada di dalam islam. Komunikasi islam juga bisa di artikan sebagai komunikasi berisi pesan keislaman seperti dakwah, ceramah, khotbah dll.

Dengan pengertian yang di atas maka komunikasi islam meliputi "what" (apa) yang dikomunikasikan dan "how" (bagaimana) komunikasi itu dilakukan. Komunikasi islam mempunyai 6 prinsip yaitu, (Qaulan Sadidan) artinya benar/tidak dusta , (Qaulan Ma'rufa) artinya kata-kata yang baik dan sopan, (Qaulan Baligha) artinya lugas dan efektif, (Qaulan Maysura) artinya mudah dicerna, dimengerti dan di pahami oleh khalayak ramai, (Qaulan Layina) artinya respek kepada siapapun, dan (Qaulan Qarima) artinya menjalin relasi dan hubungan baik. Peran komunikasi islam dalam pendidikan untuk meningkatkan keyakinan dan pembelajaran yang sudah ada dalam islam, lalu peran komunikasi islam bisa meningkatkan siswa untuk belajar komunikasi yang sudah di ajarkan oleh agama islam misal berdoa kepada Allah SWT, hal tersebut mencontohkan kita bahwa kita sedang berkomunikasi kepada Allah SWT.


Penulis: Safriani Aisyah, S.Psi