RUWAHAN YUK JAGA TRADISI
  • NURQUR'AN ANANDA FAUZAN
  • 06 Maret 2024
  • 288 x

Bulan Sya’ban yang dalam istilah orang Jawa dikenal dengan sebutan bulan Ruwah, merupakan bulan persiapan memasuki bulan puasa Ramadhan. Kata ruwah itu berasal dari kata dalam bahasa Arab: arwah (jamak) dan  ruh (bentuk tunggal).

Apa yang kita saksikan dalam bulan Ruwah itu? Banyak migran pulang kampung untuk ziarah leluhur. Banyak orang di berbagai daerah pergi ke makam, baik makam keluarga, Sesepuh desa, sampai kepada rombongan wisata religi ke makam para wali. Aktivitas seperti itu dikenal dengan banyak istilah, seperti Nyadran atau Ruwahan.

Wujud dari tindakan ruwahan itu sendiri dikenal dengan istilah yang beragam namun saling bertautan: bebesik, nyekar, punggahan, sampai tahlilan dalam satu kesatuan tindakan. Mengapa? Bebesik berwujud tindakan membersihkan rumput ilalang di seputar makam (Jawa: sinonim dengan reresik; resik-resik) merupakan tindakan awal. Setelah lingkungan makam bersih dari segala rerumputan dan ilalang, dilanjutkan dengan menaburkan bunga yang mereka beli di pasar atau di pinggir jalan. Menabur bunga di atas makam disebut nyekar.

Menjelang Ramadhan, biasanya masyarakat Jawa gelar ruwahan dan nyadran. Tradisi yang menggabungkan konsep kepercayaan adat dengan ajaran agama Islam. Ruwahan merupakan tradisi kebudayaan Jawa untuk mendoakan orang yang telah meninggal dunia. Sedangkan nyadran adalah rangkaian budayanya, mulai dari pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan kenduri selamatan di makam leluhur.

Tradisi kebudayaan ini dilakukan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa . Digelar pada bulan ruwah menjelang bulan puasa. Biasanya dilakukan di makam leluhur maupun tokoh yang berjasa mendakwahkan agama Allah di masa lampau. Bagi masyarakat Jawa, nyadran adalah kewajiban sebagai balas budi pada leluhur.

Upacara nyadran ini merupakan kegiatan yang sakral. Lewat ritual nyandran pula, masyarakat Jawa melakukan penyucian diri, membersihkan kuburan beserta batu-batu nisan, lalu mendoakan arwah leluhur. Sekilas mirip ziarah, namun makna nyadran sangat berbeda dengan ziarah kubur.

Pelaksanaan ritual nyadran dilakukan secara kolektif. Seluruh warga desa turut terlibat, bahkan warga pedatang. Biasanya dilakukan di dua pusat bangunan desa, yaitu pemakaman dan masjid. Setelah makam selesai dibersihkan, acara dilanjutkan dengan menyantap kenduri bersama-sama di kawasan masjid. Menu kenduri pun beragam, ada nasi tumpeng dengan lauk ingkung ayam, urap-urapan, buah-buahan, serta jajanan lainnya.

Hingga kini pun tradisi nyadran masih kental, terutama yang dilaksanakan warga yang menjaga tardisi tersebut. Bahkan mereka menyajikan aneka sesaji dalam tenong, nampan bulat dari anyaman bambu. Tak ketinggalan dikasih alas daun pisang atau daun jati  Satu tenong sajian dihidangkan untuk beberapa orang. Mereka akan duduk melingkari tenong. Selesai berdoa dan tahlilan, semua ramai-ramai menyantap sajian yang tersedia. Maka Prinsipnya ialah al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni ‘Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik’. Ritual tersebut jadi simbolis membersihkan diri dengan berbuat baik antarsesama, terutama di lingkungan sosialnya. Melalui rangkaian tradisi nyadran dan ruwahan inilah orang Jawa merasa lengkap dan siap untuk memasuki bulan suci Ramadhan.

Penulis : Irfan Maulana, M.Pd.

Editor : Nur Qurani Ananda fauzan, S.Pd.